Mengapa Orang Tidak Bisa Menyelesaikan Pekerjaan di Kantor

Presentasi dari Jason Fried, co-founder 37 Signals. Meeting panjang, gangguan dari Manajer dan atau atasan, adalah beberapa hal dari banyak hal lain, yang menyebabkan pekerjaan di kantor sering tidak selesai. Manajer adalah ‘Time Stealer’, begitu mantan atasan saya menyebutnya.

Sangat menarik, ketika Jason menjelaskan kesamaan bekerja dengan tidur. Ketika Anda terganggu saat bekerja dan terpaksa berhenti sejenak, seperti tidur, Anda tidak bisa kembali bekerja begitu saja. Hati, tangan dan otak Anda harus kembali ke saat Anda bekerja tadi. Dan proses tersebut, sangat memakan waktu.

Pengalaman saat saya bekerja “9-5″, saya tidak bisa berbuat banyak untuk menghindari gangguan di kantor. Kecuali menerima dan hanya berusaha sebaik-baiknya. Walhasil, long hours work menjadi makanan sehari-hari. Produktivitas? Tidak sebanding. Sebenarnya saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan, tanpa harus pulang jam 9-10 malam setiap hari setelah datang ke kantor pagi sekali.

Konsep yang dikemukakan Jason bisa menjadi benchmark jika Anda mengelola bisnis sendiri. Terutama, jika tim yang Anda pimpin kebanyakan berisi orang kreatif. Sebagai pengelola, Anda wajib mengerti prinsip dari prioritas, serta merumuskan formula yang paling pas bagi karyawan Anda, agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Dan itu bukan berarti mereka harus berada di kantor setiap saat.

Presentasinya agak panjang, 17 menit. But every second of it is worth to watch.

Kapan Proyek Sampingan Anda Layak Menjadi Start-Up?

Presentasi yang sangat bagus dari Jason Baptiste di OnStartUps.com, pendiri OnSwipe, yang baru saja mendapat dana $1 juta dari pemodal ventura.

Saya tidak akan mengulang isi artikel tersebut disini, tapi pertanda bahwa proyek sampingan layak menjadi startup adalah (1) Anda melakukan yang Anda suka, (2) Anda bisa menghasilkan Revenue, dan (3) Anda mempunyai visi yang besar.

Penjelasan detil presentasi ada di OnStartUps.com.

Oh ya, Project ≠ Start Up.

Jadi Pengusaha di tahun 2011? Go Online!

Jika Anda memutuskan untuk menjalankan bisnis sendiri tahun 2011, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk aktif online.

Mengapa?

Beberapa fakta:

1. Tahun 2008 awal adalah pertama kali saya memutuskan untuk berhenti kerja korporat (selamanya) dan membuka bisnis web design & development. Tahun 2010 akhir, saya sudah bisa menghasilkan 3 juta pageviews untuk website-website klien. Sekedar informasi, saya baru mulai belajar mendesain website tahun 2006.

2. Tahun 2009, saya mendapat pekerjaan dosen (paruh waktu, karena saya punya bisnis sendiri di Bali) di salah satu universitas paling elit di Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Saya tidak mengikuti proses seleksi apapun, tidak melalui proses lamaran, dan langsung mendapat pekerjaan mengajar karena mendapat tawaran langsung dari pihak Universitas melalui salah satu blog saya.

3. Tahun 1992-2002 band saya manggung di depan 2000-10000 penonton hampir setiap minggu. Butuh waktu kurang lebih 5 tahun sampai bisa mengenal orang-orang penting di industri musik di Jakarta. Sementara itu saya main Twitter & Facebook sejak 2007, dan di tahun 2009 saya sudah bisa mendapat kenalan banyak orang penting dari berbagai bidang keahlian (dalam waktu kurang dari 2 tahun) dan bisa menghasilkan banyak pekerjaan dan penghasilan.

4. Saya studi Magister Management, di Universitas Padjajaran Bandung tahun 2004-2005 dan saya mendapat beberapa kenalan penting dari berbagai jenis keahlian dan industri disana. Dalam waktu yang relatif sama dengan biaya yang jauh lebih murah, saya mendapat lebih banyak kenalan penting dari Twitter dan Facebook.

Apapun jenis keahlian dan usaha Anda, pasti ada vendor, supplier, konsumen, investor, hingga teman dan saudara di internet. Jangan anggap remeh hubungan online Anda, karena Anda bisa mendapat peluang bisnis yang bahkan Anda pikir tidak ada sebelumnya.

Spread the words! Go online, entrepreneurs! Have a happy new year!

Hindari 4 Kesalahan Umum Program MBA Online

Yaitu mengambil studi di program yang tidak terakreditasi, salah memilih spesialisasi studi, kehilangan fokus, dan membayar biaya studi dengan uang sendiri.

Meski penulis memberikan argumentasi yang masuk akal, saya kurang setuju dengan point 4. Jika Anda memiliki biaya sendiri, membayar studi MBA adalah investasi yang berharga.

Lengkapnya disini.